Review Film Bioskop: Ngeri-Ngeri Sedap – Moral Komedi

review film bioskop
Halo halo halo yeoreobun! Pernah nggak sih kepikiran saat nanti tua, apa anak-anak akan mau menjaga kita yang sudah renta? Kejauhan, ya? Tapi enggak loh, karena semakin ke sini, waktu terasa bergulir begitu cepatnya. Nah, di review film bioskop Ngeri-Ngeri Sedap yang baru kemarin aku tonton, aku mau sharing pelajaran moral apa yang bisa kita petik sebagai orang tua setelah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap karya Bene Dion Rajagukguk ini?
Ngobrolin soal nonton, sejujurnya aku sudah lama nggak nonton film layar lebar di bioskop. Terakhir nonton Stupid Boss 1 saat hamil kakak Rara. Setelah punya bayi, tahu dong ya gimana ribetnya. Karena kami juga jauh dari orang tua, jadi nggak bisa nitip bocah. Wkwk. Plus, jatah tiket bioskop dialokasikan penuh untuk belanja diapers.

Well, mumpung dua bayiku kemarin diempu bapaknya, emak cuss me-time buat nonton sendirian. Mengsedih sih sebenarnya nonton sendirian. Semacam jomblo gitu, loh. Tadinya sih pengen nonton Srimulat, ternyata sudah nggak tayang lagi. Akhirnya aku belok kanan nonton Ngeri-Ngeri Sedap karena kupikir akan bikin aku ketawa ngakak.

Kenapa nggak nonton KKN Desa Penari atau lainnya? Itu dia, aku tuh tipikal rada males nonton yang bikin aku makin snewen. Tujuanku nonton kan biar terhibur yak, dan horor itu justru bikin aku kepikiran. Jadi ya mohon maaf. But, aku sudah membaca thread KKN di Twitter saat pertama kali viral dulu. Dan berhasil membuatku rada parno lebih dari tiga bulan. Bahkan sampai sekarang kalau inget-inget ceritanya kek auto gimana gitu. Ngeri-Ngeri Sedap, lah. Wkwk.

Balik lagi ke review film bioskop Ngeri-Ngeri Sedap.

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga Batak dengan bapak yang masih kolot, dan mamak yang selalu sabar. Mereka memiliki empat orang anak, seorang perempuan yang penurut dan tiga saudara laki-lakinya yang sukses merantau di pulau Jawa namun seakan lupa dengan kampung halaman.

Judul Ngeri-Ngeri Sedap konon adalah frasa bahasa yang identik dengan Batak. Namun, menurutku banyak juga yang kurang familiar dengan frasa ini. Contohnya, aku. #ehh. Jujur sih aku pribadi masih meraba-meraba korelasi cerita dengan judulnya. Ya walaupun setelah mencari referensi sana-sini ternyata maksudnya gitu. Haha.

Sesuai dengan judul yang diambil dari frasa bahasa yang sering digunakan orang Batak, film berjudul Ngeri-Ngeri Sedap ini juga kental dengan adat budaya Batak beserta keindahan danau Toba yang menjadi latarnya.

Sementara untuk ukuran film komedi, menurutku sih greget komedinya masih ngambang dan terkesan hambar. Kenyataannya film ini belum benar-benar bikin aku sukses terpingkal-pingkal. Itu menurutku ya, karena selera humor orang pasti berbeda-beda. Bisa jadi juga karena aku bukan orang Sumatera Utara, jadi hal-hal yang sebenernya lucu tapi nggak ngena di akunya karena nggak paham.

Bahkan temenku yang orang Medan katanya dia menangis saat nonton film ini, tapi akunya, enggak. Wkwk. Ya itu tadi, mungkin karena aku bukan orang sana jadi kurang “ngeh” aja gitu.

Rate 7,9/10
3.95/5
review film bioskop

Sinopsis Ngeri-Ngeri Sedap

Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) adalah seorang bapak yang masih berpikiran kolonial. Beliau sukses menguliahkan anak-anaknya namun tidak sukses menjadi bapak yang bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Sedangkan Mak Domu (Tika Panggabean) adalah seorang ibu yang sabar dan istri yang selalu mengalah. Mereka memiliki 4 orang anak, yaitu Domu (Boris Bokir Manullang), Sarma (Gita Bhebhita Butar-butar), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel).

Pak Domu yang suka Ghibah di lapo bareng teman-teman sepantarannya, merasa malu dengan anak-anak para Lae lainnya yang sudah sukses menjadi pengacara. Sementara anaknya yang lulusan hukum justru menjadi komedian di TV nasional.

Pak Domu kesal dengan 3 anak laki-lakinya yang menurutnya tidak sesuai dengan keinginannya. Domu adalah anak laki-laki sulungnya yang ingin menikahi seorang gadis Sunda. Padahal dalam budaya Batak, anak laki-laki pertama haruslah menikah dengan sesama Batak sebagai penerus Marga. Tentu saja keinginan Domu ini ditentang keras oleh Pak Domu yang menyebabkan mereka bertengkar sehingga Domu enggan pulang.

Anak laki-laki ke dua yang merupakan anak ke tiga Pak Domu dan Mak Domu bernama Gabe. Gabe yang lulusan hukum ini memilih untuk menjadi komedian karena merasa memiliki passion di dunia lawak. Ia beranggapan bahwa bakat lawak yang dimilikinya adalah turunan dari bapaknya yang memang suka mbayol saat berkumpul dengan para Lae. Namun, pak Domu yang merasa malu dengan pekerjaan Gabe ini, juga membuat Gabe tidak mau pulang.

Sementara Sahat, adalah anak laki-laki bungsu yang dalam adat Batak seharusnya tinggal di rumah dan menjaga orang tua. Irosnisnya, Sahat justru memilih tinggal bersama pak Topo di Jogja karena merasa pak Topo justru bisa menjadi panutannya alih-alih bapak kandungnya sendiri yang kolot.

Berawal dari hajatan adat untuk mamaknya Pak Domu yang belum menikah secara adat di masa mudanya. Mamak Pak Domu meminta agar ketiga pahoppu (cucu) laki-laki tersebut hadir di pestanya. Oppung Boru (Nenek) ini beranggapan bahwa pesta adat Sulang-Sulang Pahompu apa gunanya jika tidak dihadiri pahompu (pahoppu).

Dari situ Pak Domu dan Mak Domu sepakat untuk bersandiwara sedang bertengkar dan ingin bercerai agar ketiga putra mereka mau pulang. Dan pulang lah mereka dengan niat untuk menyelesaikan masalah kedua orang tua mereka. Sementara pak Domu malah membahas permasalahan ketiga anaknya yang menurutnya membangkang. Tentu saja hal tersebut memicu keributan Pak Domu dengan ketiga putranya.

Pertengkaran tersebut akhirnya membuat ketiga anaknya pergi merantau kembali dengan kesal, begitu juga dengan Mak Domu yang memilih pulang ke orang tuanya bersama Sarma anak perempuan mereka.

Sebelum pulang Sahat mengatakan kepada bapaknya alasan kenapa dia lebih menyukai tinggal bersama pak Topo di Jogja. Baginya pak Topo adalah panutan yang bisa mengajarkannya nilai kehidupan yang ironisnya tak pernah ia temukan pada diri bapaknya. Sementara Pak Domu merasa bahwa caranya mendidik anak-anaknya sudah benar karena cara itu juga yang digunakan bapaknya dulu.

Pelajaran Sebagai Orang Tua di Film Ngeri-Ngeri Sedap

Dalam hal mendidik anak, kita tidak bisa mencontoh persis dengan cara apa yang digunakan orang tua kita dulu. Jika anak berkembang, kita sebagai orang tua juga harus berkembang. Kata Oppung Domu, menjadi orang tua itu tidak pernah ada kata tamat, kita harus terus belajar. Semakin kita beri anak-anak kita pengetahuan yang lebih luas, kita juga harus siap dengan pengetahuan mereka.

Nilai-nilai pengajaran yang baik dari nenek moyang kita patut diwariskan turun temurun, namun cara penyampaian atau cara pengajarannya yang harus kita sesuaikan dengan kondisi saat ini dan kondisi anak-anak kita sendiri. Karena setiap individu dan setiap keluarga itu berbeda. Tidak perlu membanding-bandingkan anak-anak kita dengan anak orang lain.

Dan satu lagi, tak hanya kita sebagai emak-bapak, kelak saat kita sebagai kakek atau nenek pun juga harus berkembang. Karena saat anak-anak kita mengajarkan anak-anaknya dengan cara-cara mereka, tugas kakek-nenek itu memantau atau menasehati dan bukan ikut-ikutan mendidik cucu. Karena sekali lagi, beda generasi akan berbeda cara yang tepat.

Duh berat banget sih bahasannya. Wkwkwk.
sinopsis film ngeri-ngeri sedap

Pelajaran Sebagai Anak di Film Ngeri-Ngeri Sedap

Nah tapi, sebagai anak kita juga harus ngerti nih posisi orang tua kita. Kenapa sih orang tua kita bisa kolot, kenapa sih orang tua kita makin tua makin manja makin banyak drama, kenapa sih orang tua kita seolah-olah mendikte kita padahal kita sudah dewasa?

Perlu diketahui, bagi orang tua, anak akan selalu menjadi bayi bagi mereka. Mereka hanya tidak ingin anak-anaknya mendapat kesulitan atau salah melangkah yang menyebabkan penyesalan nantinya. Dulu, kupikir mereka itu hanya cerewet dan suka ngatur-ngatur padahal kita sudah besar. Tapi ternyata aku menyadari setelah anak sulungku sekarang sudah bujang. Bagiku dia tetaplah baby boy yang aku akan sedih dan heboh kalau dia jatuh terpeleset.

Intinya sih, orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya dan tidak ingin anaknya terluka. Itu aja.

Kenapa ada orang tua kolot atau berpikiran sempit? Bisa jadi bukan pikiran mereka yang sempit, itu mungkin karena mereka belum pernah kemana-mana, belum mengetahui sisi dunia yang lebih luas dari tempatnya selama ini. Berbeda dengan kita yang mungkin sudah bertemu dengan lebih banyak orang dan lebih banyak wawasan.

Kalau di film Ngeri-Ngeri Sedap ini ya seperti Pak Domu, ia besar hingga tua hanya di kampungnya. Menurut pandangannya, adat istiadat yang ditanamkan orang tuanya itu menjadi tolak ukurnya. Baginya, profesi yang membanggakan itu adalah profesi yang mengenakan seragam dan berkantor sebagaimana sebagian besar masyarakat kampungnya berpendapat. Ya karena itu tadi, Pak Domu hanya tinggal dan menua di kampung tersebut saja.

Orang tua juga hidup di jaman yang berbeda dengan kita. Mereka butuh waktu yang lebih lama untuk bisa menerima kemajuan teknologi di mana jaman kita bertumbuh. Mereka butuh waktu untuk melepaskan pemikiran yang mereka anggap benar dan sudah mengakar di benak mereka sejak kecil.

Ada istilah, semakin kita tua maka semakin menjadi bayi kembali. Ya begitulah orang tua. Mereka akan berperilaku seperti bayi kembali sadar atau tidak sadar. Terkadang cenderung manja dan lebih mudah tersinggung. Itu alamiah kok bestie. Jika dulu mereka yang memperhatikan dan merawat kita, sekarang gantian kita yang harus merawat dan memperhatikan mereka. Orang tua itu hanya cemburu dan takut dilupakan anak-anaknya. Karena bagi orang tua, anak-anaknya itu lah kebahagiaan mereka.


Oke deh yeorebun, sepertinya sudah terlalu panjang review film bioskop Ngeri-Ngeri Sedap kali ini. Semoga kita bisa mengambil pengajaran baik dari film ini ya. Baik sebagai anak maupun sebagai orang tua, kita tetap harus terus belajar sebagaimana jaman selalu berkembang. Dan satu lagi, bukan anak-anak yang kelak akan terus bersama kita, tapi pasangan kita. Anak hanya titipan, kelak mereka akan punya kehidupannya sendiri. Saat itu, kehidupan kita hanyalah pasangan kita bersama cerita bahagia anak cucu. So, perlakukan pasanganmu sebaik-baiknya selagi mampu. See you di next review film bioskop.



안녕!

Hello, I'm Sera Wicaksono. Mom of 3 and stay in Bali, ID. For business inquiry, don't hesitate to contact me.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!