Tetap Berkarya Meski dengan Presbiopi Dini – Mataku, Duniaku!

Menjadi seorang ibu rumah tangga adalah cita-citaku sejak masih belia. Tanpa kusadari. Hal itu tercetus begitu saja. Padahal aku juga pernah sangat ingin menjadi designer baju, pernah bercita-cita menjadi arsitek, pramugari yang selalu tampil cantik, karyawan dengan baju kantoran yang elegan, pernah juga membayangkan betapa kerennya bekerja dengan headphone bermikrofon. Bahkan, aku pernah menganggap keren seseorang yang bekerja menghadap komputer dengan kacamata minus yang manis.

Lah, pakai kacamata minus kok dianggap keren?

Entahlah. Bayanganku saat itu ya memang keren. Mungkin karena jaman itu memakai kacamata pleno masih dianggap tabu dan dibilang sok gaya. Beda dengan sekarang yang sudah populer menggunakan kacamata pleno/normal alih-alih untuk keperluan fashion maupun kacamata pleno berlensa anti radiasi blue light untuk menjaga kesehatan mata disaat harus bekerja di depan layar gawai.

Ironisnya, saat ini, di saat aku harus bekerja di depan laptop dengan sebuah kacamata. Itu ternyata tidak keren sama sekali. Capek. Karena kacamata yang harus kupakai adalah kacamata baca.
Iya, selain menjadi ibu rumahan, aku juga memiliki rutinitas lain yaitu sebagai blogger yang kesehariannya menatap layar gawai. Kini aku menyadari, bahwa memiliki mata yang sehat dan normal itu sebuah nikmat rezeki yang luar biasa harus disyukuri dan dijaga.

Presbiopi Prematur Menjadi Kado Ulang Tahun di Usia 37 Tahunku

Yupp, beberapa waktu lalu aku sah dinyatakan refraksi presbiopi prematur setelah melakukan pemeriksaan di poli mata sebuah rumah sakit. Seperti dugaanku. Karena sudah lama aku merasa kesulitan membaca tulisan kecil dengan jarak normal. Melihat benda-benda yang terlalu dekat membuat pandanganku sedikit berbayang.

refraksi

Orang bilang, presbiopi itu penyakitnya orang tua, karena rabun dekat presbiopi atau presbiopia itu memang umumnya diderita para manula.

Secara teori, presbiopia biasanya mulai muncul saat kita berusia 40an. Lah sedangkan usiaku baru genap 37 tahun. Itu sebabnya, saat pernah memeriksakan mata ke sebuah optik, mataku dinyatakan normal. Padahal kenyataannya penglihatanku sedang tidak baik-baik saja.

Hampir setahun aku dibuat kesulitan membaca tulisan di laptop, ponsel, atau apa pun dengan ukuran tulisan yang tidak besar dengan jarak pandang normal, apalagi dekat.

Biasanya aku sedikit memundurkan kepalaku saat membaca, atau tulisan yang sedang kucermati sedikit kujauhkan beberapa senti. Sayangnya, untuk tulisan yang lebih kecil, itu semakin tidak terbaca. Pun halnya dengan benda-benda kecil, obyek dengan banyak cahaya, maupun obyek dengan gerakan.

Sementara aktivitasku sebagai ibu rumah tangga yang juga nyambi ngaku-ngaku jadi blogger ini, tentu tak lepas dari yang namanya membaca tulisan. Parahnya lagi, tulisan-tulisan yang harus kubaca itu tak hanya di kertas, tetapi juga di gawai yang pastinya sedikit kurang bersahabat dengan mata karena cahaya yang dihasilkannya.

Belum lagi harus melihat atau membaca layar yang bergulir, baik website maupun sosial media.

Bahkan, suatu hari saat berada di pusat perbelanjaan, aku sangat kesulitan berjalan pada saat menuruni tangga eskalator yang diam. Pijakan tangga eskalator yang membentuk seperti garis-garis itu membuat pandanganku sedikit kabur hingga terasa melayang.

Namun anehnya, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan sesuatu yang negatif mengenai hal ini kecuali diagnosis presbiopi prematur yang kusebut tadi. Yaitu kesulitan membaca tulisan atau obyek kecil dengan jarak normal.

Meski begitu, aku tetap bersyukur sih sudah mendapat pemeriksaan Dokter Mata sehingga presbiopi dini ini dapat diberikan penanganan dengan baik.

Selain diberi vitamin untuk mata, dokter juga menyarankan agar aku tidak terlalu mengajak mata bekerja terlalu keras. Sebisa mungkin tidak menatap layar laptop selama lebih dari 2 jam, serta harus sering-sering mengistirahatkannya agar mata lebih rileks.

Dokter juga menyarankanku untuk menggunakan kacamata baca dengan ukuran +1.00 di kanan dan kiri. Alhamdulillah sih sekarang lebih terbantu jika harus bekerja di depan gawai, atau saat membaca apa pun termasuk membaca pikirannya. #ehh.

Ilustrasi Presbiopia - foto by National Lasik Center

Merasa Presbiopi? Cek dulu gejalanya!

Kata dokter, presbiopi itu tidak dapat diobati, tidak juga bisa disembuhkan dengan terapi. Cara yang paling umum untuk mengatasinya adalah memakai kacamata. Meski terbilang sedikit ribet karena harus memakai kacamata setiap akan membaca atau melihat benda-benda kecil, setidaknya tidak semakin menyiksa otot mata dan diri sendiri. Kabarnya sih bisa juga diatasi dengan cara operasi Lasik, yaitu operasi koreksi mata yang menggunakan teknologi laser.

What? Laser?
Denger kata laser kok ya agak menciut nyaliku. Hehe. Karena yang ada di bayangku, sinar laser itu yang bisa memenggal kepala seperti di film-film zombie yang pernah kutonton.

Tapi tenang! Nggak sehoror itu kok gais…

Karena setelah aku mencari-cari informasi tentang operasi Lasik di National Lasik Center yang dinaungi oleh Eyelink Group, Lasik atau akronim dari Laser In Situ Keratomileusis merupakan sebuah prosedur untuk mengoreksi kelainan refraksi mata menggunakan teknologi laser sehingga penderita refraksi bisa terbebas dari kacamata atau lensa kontak.

Lasik membantumu melihat dunia tanpa kacamata

Boleh dibilang Lasik merupakan jalan ninja bagi penderita kelainan refraksi mata terutama dengan tingkat keparahan menengah ke atas, sehingga mereka tidak perlu lagi capek memakai kacamata tebal atau ribet menggunakan softlense.
Eh tapi tunggu, refraksi itu apa sih?

Refraksi mata adalah istilah untuk menggambarkan proses masuknya cahaya ke dalam mata hingga tertangkap oleh retina. Saat cahaya masuk ke mata, lensa dan kornea mata akan menyesuaikan pantulan cahaya agar terfokus tepat pada retina. Jika refraksi mata bekerja dengan baik, maka kualitas penglihatan akan jelas dan fokus.

Refraksi adalah proses masuknya cahaya ke dalam mata untuk dibiaskan tepat pada retina yang berada pada bagian belakang mata. Jika refleksi mata bekerja dengan baik, maka kualitas pendangan yang dihasilkan akan terlihat jelas.

Sedangkan kelainan refraksi mata adalah terganggunya proses refraksi tersebut yaitu saat cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh di depan maupun di belakang retina sehingga terjadi gangguan penglihatan, yaitu rabun jauh (miopi), rabun dekat (hipermetropi), silinder (asigmatisme), dan mata tua (presbiopi).

Rabun Jauh (Miopi) - foto: National Lasik Center
Rabun Dekat (Hipermetropi) - foto: National Lasik Center
Silinder (Asigmatisme) - foto: National Lasik Center
presbiopi
Mata Tua (Presbiopi) - foto: National Lasik Center

Konon refraksi presbiopi atau mata tua ini kini juga bisa diatasi dengan Lasik loh, apalagi jika disertai dengan rabun jauh maupun silinder.

Bedah Lasik sendiri ternyata ada beberapa jenisnya tuh, diantaranya Femto Lasik, PRK, dan Relex Smile. Meski begitu, kita sebagai orang awam akan tetap menyebut semuanya sebagai Lasik.

Nah tapi, sebelum dilakukan tindakan bedah Lasik, pasien perlu tahu dulu nih syarat-syarat prosedur bedah Lasik. Salah satunya adalah pemeriksaan refraksi secara detail. Yuk simak dulu apa saja persyaratan sebelum dilakukannya tindakan bedah Lasik ini!

7 Syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan bedah Lasik

1. Berusia 18 tahun ke atas

Sebelum usia 18 tahun, kita masih mengalami yang namanya pertumbuhan, termasuk pertumbuhan bola mata yang dapat mempengaruhi besaran minus atau plus pada kelainan refraksi mata yang diderita. Sedangkan usia 18 tahun ke atas, dimana perkembangan manusia umumnya telah berhenti, maka kemungkinan terjadinya regresi setelah Lasik sangat kecil. FYI, regresi adalah pertambahan atau penurunan plus atau minus.

2. Ketebalan kornea di atas 500 mikron

Syarat yang kedua adalah ketebalan kornea. Bedah Lasik tidak dapat dilakukan pada kornea yang tipis atau ketebalannya di bawah 500 mikron. Ketebalan kornea ini bisa kita ketahui setelah kita melakukan pemeriksaan tahap awal yang disebut Pre-Lasik.

3. Tingkat Kelainan Refraksi (Refractive error)

Tingkat kelainan refraksi yang dapat dilakukan untuk bedah Lasik juga terbatas. Yakni hanya pada rentang -1.00 hingga -12.00 D untuk rabun jauh, sementara untuk silinder dan rabun dekat hipermetropi masing-masing tidak lebih dari 6.00 D. Sedangkan jika ingin melakukan laser vision correction generasi ke tiga, Relex Smile, yang diklaim memiliki resiko rendah terhadap efek samping membuat mata kering itu, tingkat minus yang dapat ditangani pada miopi maksimal -10.00 D.

4. Status refraksi sudah stabil

Status refraksi yang diderita pasien sudah stabil minimal 1 tahun atau sekurang-kurangnya 6 bulan. Hal ini berkaitan dengan resiko terjadinya regresi pasca bedah Lasik. Juga berkaitan dengan syarat usia 18 tahun di atas.
lasik

5. Menghentikan pemakaian lensa kontak

Sebelum melakukan prosedur Lasik, pasien diharuskan untuk menghentikan pemakaian lensa kontak alias softlense untuk kurun waktu 2-4 minggu atau setidaknya 7 hari sebelum dilakukan bedah Lasik.

6. Riwayat kesehatan mata

Riwayat kesehatan mata pada pasien harus disampaikan dengan detail pada dokter mata yang menangani. Seperti infeksi mata, herpetic keratitis, glaukoma, keratoconus, atau retinal detachement. Hal tersebut berkaitan dengan kontraindikasi tindakan bedah Lasik itu sendiri. Selain itu, bagi pasien dengan sindrom mata kering, hanya bisa melakukan bedah Lasik Relex Smile. Sebab, 2 tipe bedah Lasik sebelumnya memiliki efek samping mata kering, ditakutkannya hal tersebut dapat menambah sindrom mata kering semakin parah.

7. Riwayat medis

Riwayat medis juga sangat dibutuhkan sebelum melakukan tindakan bedah Lasik. Seperti diabetes, collagen vascular disease, SLE, RA, marfan syndrome, atau sedang pada masa kehamilan. Sebab pasien dengan kondisi medis yang demikian sangat beresiko. Pada pasien diabetes misalnya, memiliki resiko mengalami katarak.

Oiya, beberapa persyaratan di atas dapat diketahui dengan melakukan tes Pre-Lasik. Jika semua persyaratan di atas sudah terpenuhi, maka pasien dengan kelainan refraksi bisa melakukan tindakan bedah Lasik di National Lasik Center.

Kenapa harus National Lasik Center?

National Lasik Center (NLC) merupakan pusat bedah refraksi laser (pusat Lasik) yang berlokasi di Surabaya Jawa Timur dan dinaungi oleh Eyelink Group sebagai Holding dari pusat layanan dan manajemen penyedia layanan kesehatan mata yang sudah berpengalaman sejak 2010.

Eyelink hospital partner

0
Poli Mata
0
Dokter SpM
0
Vendor
0
KMU EDU

Saat ini NLC sudah bekerjasama dengan 40+ dokter spesialis mata yang tersebar di banyak kota di Indonesia dan siap menjadi Lasik Advisor temen-temen di mana pun berada.

NLC berkomitmen untuk memberikan layanan Lasik terbaik dengan hadirnya dokter spesialis mata yang ahli di bidang operasi bedah refraktif serta didukung teknologi modern yang super canggih. Sebagai bagian dari Eyelink Group, NLC juga memiliki komitmen yang sama yaitu mengedepankan landasan 3 budaya Proedusosio yaitu Profesional, Edukasional, dan Sosial.
Serta berpegang pada filosofi “bahwa sebaik-baiknya manusia adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.”

Seperti yang kita tahu, saat ini operasi Lasik masih digolongkan sebagai tindakan kesehatan estetik. So, operasi Lasik tidak termasuk dalam daftar tindakan yang ditanggung oleh BPJS ya gaes ya, semoga tercerahkan.

Jl. Dharma Husada Indah Utara No. 41 Blok U-122, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Surabaya, Jawa Timur 60115.
Telp: 031 5952590 – 082 234 666 888

Prioritaskan Kesehatan Mata Sebagai Wujud Mensyukuri Nikmat Illahi

Meski operasi Lasik dapat membantu memperbaiki kelainan refraksi mata kita, tapi menjaga kesehatan mata itu tetap lebih utama ya temen-temen. Bukankah menjaga itu lebih baik daripada mengobati operasi? Yakan?

Menurutku, menjaga kesehatan mata juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita terhadap segala kenikmatan pemberian Sang Maha Esa. Seriusan loh, mata sehat itu sebuah anugerah terindah yang Sang Khalik berikan kepada kita.

Coba bayangin…

Nggak usah bayangin yang buruk-buruk dulu deh. Kita, saat malam-malam listrik padam aja rungsingnya sudah minta ampun. Ya kan? Sulit melihat dengan jelas, ruangan terasa pengap karena tanpa cahaya. Itu baru listrik padam doang, yang paling-paling cuma hitungan jam.
Lah kalau penglihatannya yang padam? seumur hidup? Amit-amit sih ya, Naudzubillah.

So, menjaga kesehatan jiwa dan raga terutama kesehatan mata itu penting banget ya gaes ya!
Caranya gimana?

Pertama,

Jangan terlalu memforsir mata! apalagi mengajaknya sering begadang mantengin layar laptop. *uhuk #aku. Terapkan aturan 20 menit, 20 feet (5 meter), dan 20 detik.

Yaitu, istirahatkan mata setelah 20 menit menatap layar dengan memandang sejauh 20 feet (5 meter) selama 20 detik.

Kedua,

Sempatkan beraktivitas di luar ruangan minimal 2 jam per hari. Ajakin mata nontonin yang seger-seger, contohnya, mandangin Lee Min-ho dedaunan hijau dengan bunga-bunga bermekaran.

Ketiga,

Gunakan sunglasses atau kacamata hitam anti UV yang dapat mencegah radiasi sinar UVA & UVB.

Keempat,

Gunakan kacamata sesuai ukuran jika menderita kelainan refraksi agar mata tidak terlalu bekerja keras.

Kelima,

Olahraga teratur dan menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan mata seperti Diabetes dan Glaukoma.

Keenam,

Perhatikan kandungan dan tanggal kadaluwarsa make-up & skincare (khususnya) untuk area mata.

Ketujuh,

Hindari merokok! Asap rokok dapat memicu berbagai keluhan mata hingga dapat mengakibatkan kebutaan permanen.

Kedelapan,

Konsumsi sayur & buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral khususnya vitamin A untuk menjaga kesehatan mata.

Selain 8 hal yang perlu temen-temen perhatikan di atas. Jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin setidaknya 1 kali dalam setahun di rumah sakit mata, klinik mata, atau poli mata. Disarankan untuk periksa mata di pusat layanan kesehatan mata yang sudah memiliki peralatan modern serta canggih dengan didampingi dokter spesialis mata andal dan kompeten seperti di klinik mata KMU.
Nah kalau untuk pemeriksaan kesehatan mata di klinik mata KMU ini, kita bisa menggunakan layanan BPJS, loh. Tentunya sesuai syarat dan prosedur yang berlaku ya, gais.

Selain itu, periksa mata di klinik mata KMU juga praktis karena tak perlu mengantre lama. Kita bisa melakukan registrasi atau pendaftaran secara online, juga bisa memantaunya secara online menggunakan smartphone.

Dengan melakukan pemeriksaan rutin setidaknya setahun sekali, kita bisa nih mengantisipasi adanya gangguan mata sedini mungkin. Karena seperti yang kita tahu, di Indonesia sendiri pasien dengan gangguan refraksi maupun katarak cukup banyak.

Alhamdulillah cita-citaku kesampaian.
Kerja pakai kacamata ngadep laptop dan bisa pakai headset juga. wkwkwkk

#SekilasInfo

Jumlah penderita gangguan penglihatan di Indonesia

0 juta
Total penderita gangguan penglihatan
0 juta
Menderita kebutaan
0 juta
Menderita kebutaan akibat Katarak
0 juta
Kasus Presbiopi per tahun

Pada keluhan refraksi presbiopi sendiri setiap tahunnya mencapai 2 juta kasus loh. Sedangkan untuk kasus mata Katarak, Indonesia menduduki peringkat atas sekaligus merupakan penyebab kebutaan tertinggi hingga mencapai 81%.

*Sumber data: https://www.kemkes.go.id/article/view/20100600004/katarak-penyebab-terbanyak-kebutaan.html

Penutup

Mata adalah jendela dunia. Mata adalah anugerah Sang Pencipta sebagai wujud kasih sayang yang tak terhingga untuk umat-Nya. Mata yang sehat dan penglihatan yang normal tentu akan mengoptimalkan produktivitas kita. Oleh karena itu, sayangi mata kita dengan menjaga kesehatannya sebagai sebuah prioritas.

Nah, mumpung masih dalam rangka World Sight Day atau hari penglihatan sedunia yang selalu diperingati setiap Kamis pada minggu kedua bulan Oktober, sekaligus mendukung gerakan berantas kebutaan akibat Refraksi dan Katarak. Yuk mulai sekarang prioritaskan kesehatan mata kita, agar bisa melihat indahnya dunia hingga usia senja.

Disclaimer:
Artikel ini diikutsertakan dalam Eyelink Blog Competition 2022.

Sumber referensi:
https://nationallasikcenter.id
https://eyelink.id
https://kmu.id
https://www.kemkes.go.id/
https://alodokter.com
Olah grafis: Canva by Sera Wicaksono
error: Content is protected !!